ALMI Bangun Jejaring Riset dengan Ilmuwan Diaspora

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Jakarta, 6 September 2019–Akademi llmuwan Muda Indonesia (ALMI) akan membangun jejaring riset dengan para ilmuwan diaspora Indonesia di berbagai negara. Jejaring tersebut ditujukan untuk membuat kerja sama dan supervise riset, memberdayakan potensi sumber daya manusia Indonesia di dalam dan di luar negeri yang memiliki potensi, kualitas, dan pengalaman guna turut membangun sains dan teknologi bagi kemajuan bangsa.

Ketua ALMI Dr. Alan F. Koropitan, pekan lalu, mengungkapkan, saat ini ada 265 orang dalam jaringan ilmuwan muda dari seluruh Indonesia yang bekerja sama dengan ALMI. DI samping itu, ada sekitar 400 ilmuwan diaspora  yang tersebar di 15 negara. Mereka masih memegang paspor Indonesia. Ada yang menjadi profesor, sebagian lainnya paling rendah asisten profesor di universitas-universitas terkemuka.

“Oleh karena itu, ALMI dan para ilmuwan diaspora akan berjejaring dalam kluster riset yang ada. Jejaring ini didukung Kemenristekdikti,” kata Alan.

Jejaring kerja sama riset ini merupakan tindak lanjut dari Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang diselenggarakan oleh ALMI bekerja sama dengan Kemenristekdikti dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional pada 19-25 Agustus 2019 di Hotel Sultan, Jakarta. Simposium tersebut dihadari 52 ilmuwan diaspora Indonesia dari 15 negara.

Menurut Alan, SCKD tersebut merupakan simposium keempat yang diselenggarakan untuk para cendekiawan kelas dunia Indonesia setiap tahun. Pada dua tahun terakhir, simposium membahas tema-tema yang sangat terkait dengan bidang-bidang yang dipaparkan dalam buku Sains45, buku yang ditulis dan diterbitkan ALMI dan Akademi Ilmu Pengetahun Indonesia (AIPI) 2018 lalu.

Adapun delapan bidang meliputi: Identitas, keragaman, dan budaya; kepulauan, kelautan, dan sumber daya hayati; kehidupan, kesehatan, dan nutrisi; air, pangan, dan energi; bumi, iklim, dan alam semesta; serta bencana dan ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Ke depan, menurut Alan, pihaknya berupaya untuk membuat basis data siswa berbakat untuk menjadi peneliti, yang kemudian akan disekolahkan ke luar negeri

“Ada keinginan pemerintah untuk menyekolahkan sebanyak 200 putra-putri terbaik di kampus top luar negeri. Dalam hal ini, peran diaspora sangat diperlukan,” ungkapnya.

ALMI dan Kemenristekdikti akan menawarkan kepada universitas-universitas di luar negeri (khususnya yang telah dijajaki saat ini di Inggris) beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia, yang nantinya dibiayai Pemerintah Indonesia.

“kita akan mendapat buy one get one. Jadi, Indonesia menawarkan, tadinya 50-50 persen. 50 persen Indonesia, 50 persen universitas yang ada di UK, tapi itu berubah. Kalau kita membiayai lima mahasiswa, mau tidak mereka juga membiayai lima. Jadi. Kita dapat 10,” jelas Alan.

Saat ini, konsep kerja sama tersebut telah dijalin dengan universitas Nottingham, dan sedang dalam proses dengan Universitas Warwick. “Serta satu universitas lagi, tapi saya lupa,” imbuhnya.

Pidato Presiden

Lebih jauh, Alan mengungkapkan, saat ini pihaknya dengan menyiapkan tindak lanjut isi pidato Presiden Joko Widodo di Sentul beberapa waktu lalu, khususnya tentang penyiapan SDM, dengan membentuk sistem manajemen talenta. Saat ini, ALMI dan Kemenristekdikti tengan membuat skema-skema untuk menyusun konsep mengenai manajemen talenta tersebut.

Dari delapan klaster yang menjadi fokus SAINS45, telah diperas lebih kecil menjadi tema-tema prioritas utama, salah satunya tentang biodiversitas. Lalu, para talenta yang dihasilkan akan dikirimkan ke universitas terbaik dengan memanfaatkan jaringan ilmuwa diaspora dan ALMI.

Diaspora Bangun Bangsa

Diaspora merupakan sumber daya nasional di luar negeri yang memiliki potensi besar mendorong kemajuan bangsa. India dan Tiongkok telah membuktikannya.

Tak kurang dari 40 juta diaspora Tiongkok terlibat dalam reformasi dan restrukturisasi BUMN saat bangkrut pada dekade 1990-an. Di India, para diaspora membawa Mumbai menjadi salah satu pusat industri teknologi dan informasi terbesar di dunia.

Menurut Jaringan Kerja Diaspora Indonesia, kini jumlah diaspora Indonesia sekira 7 juta orang. Sebagaimana di India dan Tiongkok, diaspora Indonesia ke depan diharapkan juga memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dalam SCKD 2019, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Kemenristekdikti, Prof Ali Gufron Mukti, mengatakan, SCKD 2019 merupakan program berkesinambungan bagi diaspora untuk membangun bangsa.

“Ini merupakan forum bagi diaspora dalam berkontribusi bagi bangsa, terutama dalam melakukan lompatan pembangunan untuk peningkatan sumber daya manusia sesuai visi Presiden Joko Widodo,” ujar Ghufron dalam simposium tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan, pemerintah sangat terbuka untuk bersinergi dan bangkit mengembangkan riset ilmu pengetahuan bersama cendekia dan diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara.

“Pemerintah Jokowi pun punya visi negara maju, yakni Indonesia menguasai ilmu pengetahuan teknologi kelas dunia,” imbuhnya.

Dalam forum itu, sebagai wakil ALMI, Alan juga menyampaikan harapannya agar simposium ini dapat memperkuat diplomasi sains Indonesia, memfasilitasi proses brain circulation yang telah berjalan dengan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir ini, serta kolaborasi ilmuwan dalam dan luar negeri dapat memberikan dampak besar bagi pembangunan SDM Indonesia.

 

 

 

Penulis:

Mohamad Burhanudin (Communication Coordinator ALMI)

 

 

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content