Anugerah Ilmuwan Perempuan Inspiratif di Bidang Electrochemical untuk Dr Eniya

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Dr Eniya Listiyani Dewi, salah satu ilmuwan anggota Akademi Ilmuwan Indonesia (ALMI), mendapatkan penghargaan “GE Indonesia Recognition for Inspiring Women in STEM (science, technology, engineering, and mathematics)” 2019.

Penghargaan ini diberikan untuk Dr Eniya atas dedikasi dan kepakarannya dalam bidang electrochemical process. Pada tahun 2010, Prof Eniya juga dianugerahi Habibie Awards, sekaligus menjadi ilmuwan termuda penerima anugerah tersebut, tepatnya pada usia 36 tahun.

Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi lahir di Magelang, 14 Juni 1974. Ia adalah alumnus S1-S3 dari Waseda University di Jepang. Program S1 di Waseda University ditempuh dengan beasiswa dari Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Putri pasangan pasangan Hariyono (alm) dan Sri Ningsih ini juga mendapat beasiswa di perguruan tinggi yang sama melalui lembaga lain. Ia menempuh waktu sembilan tahun untuk menyelesaikan program S1-S3 dari tahun 1994-2003. Saat ini beliau bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Salah satu karya yang mengawali kiprahnya di bidang sel bahan bakar adalah penemuan katalis baru untuk sel bahan bakar. Katalis yang terbentuk menjadi terdiri dari 10 penyusun, padahal harusnya ada 2 penyusun. Dari hasil karya tersebut, perempuan yang menyelesaikan gelar doktor dari Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis dan Sel Bahan Bakar Waseda University, Jepang ini meraih beragam penghargaan, termasuk Mizuno Awards dan Koukenkai Awards dari Waseda University dan Polymer Society Japan pada tahun 2003. Katalis baru temuan Eniya itu telah membuat terobosan zinc-air fuel cell (ZAFC). Yakni, suatu generator penghasil listrik berbahan bakar logam dan oksigen.

Eniya Listiani Dewi merupakan perempuan pertama yang berhasil menyabet BJHTA. Dia menilai kelangsungan hidup manusia dan keberlanjutan peradaban memerlukan energi, dan banyak negara yang sudah menghapuskan sumber energi konvensional dan beralih ke Energi Baru Terbarukan.

Eniya berhasil mengembangkan teknologi Fuel Cell dengan metode electron transfer. Teknologi ini menggunakan bahan baku lokal dan dipasang pada motor juga back up power untuk berbagai peralatan. Proses produksi gas hidrogen telah dikembangkan dari limbah biomassa dengan bahan baku limbah dari industri kepala sawit.

“Kalau penemuan, ini pertama di dunia. Kalau penemuan yang saya sendiri itu yang electron transfer. Kalau penemuan, selama itu dipublish di jurnal internasional atau dipaten, itu kebaharuannya itu global,” jelas Eniya

Karya lainnya adalah ThamriON, sebuah membran sel bahan bakar temuannya yang mendapatkan penghargaan Inovasi Paten dari Ditjen HKI 2010. ThamriON tersebut adalah membran sel bahan bakar yang terbuat dari plastik yang direaksikan dengan asam sulfat. Karena telah direaksikan, maka plastik bisa menghantarkan listrik. Teknologi sel bahan bakar dan bahan pendukung lain hasil risetnya di kembangkan 80 persen dari material lokal, sehingga biayanya lebih murah.

 

Selamat Dr Eniya. Semoga terus menginspirasi perempuan-perempuan dan generasi muda Indonesia.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content