Dr Tatas: Karotenoid, Harapan Baru Penyelematan Terumbu Karang Indonesia

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

(Foto: www.nationalgeographic.com)

Bersama Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Indonesia merupakan negara yang terletak dalam segitiga karang dunia (coral triangle), dengan tingkat keanekaragaman hayati terumbu karang tertinggi di dunia.

Namun, berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) yang dirilis pada 2017, sekitar 35,15 persen terumbu karang Indonesia dalam kondisi buruk. Hanya 6,39 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik. Sisanya, kondisi baik 23,40 persen, kondisi cukup sebesar 35,06 persen. Hasil ini diambil dari 108 lokasi dan 1064 stasiun di seluruh perairan Indonesia.

Baru-baru ini, sebuah riset kolaborasi para peneliti di MRCPP (Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments) dengan Universitas Diponegoro, Semarang dan Universitas Shizuoka, Jepang memberi harapan baru bagi upaya perbaikan kondisi terumbu karang di Indonesia tersebut.

Wakil Ketua ALMI, Dr Tatas HP Brotosudarmo, yang juga salah satu peneliti yang terlibat dalam riset tersebut, Rabu (9/10), mengungkapkan, riset kolaboratif itu menemukan jenis pigmen karotenoid baru yaitu carotenoid zeaksantin sulfat. Ini diproduksi oleh bakteri simbion yaitu bakteri yang hidup menumpang pada inangnya Erythrobacter flavus yang ada di terumbu karang berjenis Acropora nasuta. Jenis ini diambil di perairan Karimunjawa Jawa Tengah.

“Dengan penemuan ini, maka bisa membantu memperbaiki terumbu karang yang rusak di Indonesia. Semoga ini dapat menjadi harapan baru bagi masa depan terumbu karang di Indonesia. Rencana menyapukan bakteri simbion ke terumbu karang masih proses dibicarakan dengan rekan kami di Undip,” ungkap Tatas.

Hasil riset kolaboratif tersebut sudah dimuat di jurnal internasional Ql berfaktor dampak Marine Drugs terbitan Molecular Diversity Preservation International (MDPI) Swiss pada 11 Juni 2019 lalu.

Jenis karotenoid yang ditemukan  tim riset tersebut tergolong istimewa karena ada gugus sulfurnya.  MRCPP, lanjut dia, saat ini sudah memiliki kultur dari bakteri ini. Disebutnya, jika ini diaplikasikan, setidaknya bakteri bisa dipakai untuk perbaikan terumbu karang keras jenis Acropora nasuta.

Adapun fungsi bakteri yang menumpang pada inang ini selain memproduksi karotenoid juga untuk melindungi diri dan inangnya dari sulfida yang ada di air Iaut. Kandungan hidrogen sulfida dalam air laut menyebabkan kerusakan lingkungan dan matinya terumbu karang.

Tapi dengan penelitian ini, bisa membuktikan bahwa adanya bakteri simbion ini bisa melindungi terumbu karang.

Cara kerja bakteri simbion adalah melakukan proses detoksifikasi dengan mengambil sulfida berbahaya dan mengubahnya menjadi pigmen karotenoid. Terumbu karang adalah mahluk hidup di dasar laut yang berfungsi sebagai habitat tumbuhan laut, hewan laut serta mikroorganisme. Ada berbagai jenis terumbu karang bahkan menjadi keindahan wisata bawah laut.

Karotenoid adalah keluarga pigmen kuning hingga oranye-merah, umumnya terdiri dari kerangka 40-karbon yang terdiri dari unit 8-isoprena. Mereka didistribusikan secara luas di alam dan lebih dari 250 karoten berasal dari. Berbagai komposisi yang ada dalam mikroorganisme laut, seperti mikroalga dan fitoplankton, telah meningkatkan penggunaan karoten sebagai tanda kimia untuk profil kemotaksonomi cepat. Dalam proses fotosintesis, fungsi utamanya adalah pemanenan cahaya dan proteksi photop, perlindungan terhadap oksigen singlet reaktif dan perlindungan terhadap radiasi cahaya biru.

 Efek untuk kesehatan

Selain untuk perbaikan terumbu karang, berbagai keluarga karoteniod ternyata memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan manusia. Karotenoid telah digunakan sebagai pewarna makanan, suplemen gizi, dan untuk keperluan nutraceutical, kosmetik, dan farmasi.

Genus Erythrobacter pertama kali diklasifikasikan oleh Shiba dan Simidu tahun 1982. Genus ini mengandung bakteri fotosintesis laut aerobik yang memiliki bacteriochlorophyll (BChl) a dan karotenoid.

Sejauh ini, 20 spesies diketahui dari genus Erythrobacter (E. longus, E. litoralis, E. citreus, E. flavus, E. aquimaris, E. seohaensis, E. gaetbuli, E. vulgaris, E. nanhaesedimnis, E. gangjinensis , E. marinus, E. pelagi, E. jejuensis, E. odishensis, E. lutimaris, E. atlanticus, E. aquimixticola, E. arachoides, E. xanthus, dan E. luteus).

Erythrobacter flavus strain KJ5 adalah bakteri laut aerobik berpigmen oranye kuning. Ini adalah sel berbentuk batang ovoid dari 0,1-0,5 μm × 0,2-1,0 μm dimensi dan telah diisolasi dari karang keras Acropora nasuta, ditemukan di Kepulauan Karimunjawa. Analisis sebelumnya oleh urutan 16S rDNA menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kesamaan 96% dengan E. flavus.

Sumber foto cover    : www.leisurepro.com

Foto dalam: www.nationalgeographic.com

 

Penulis: Mohamad Burhanudin

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content