Hilirisasi sebagai Jawaban atas Tantangan Riset Indonesia

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Dalam pidatonya pada Rapat Koordinasi Nasional tentang Integrasi Riset dan Inovasi Indonesia di Puspitek, Kamis (30/01/2020), Presiden Joko Widodo menantang dunia riset agar tak sekadar menghasilkan dokumen laporan, tetapi juga agar turut menyelesaikan persoalan bangsa. Presiden juga meminta agar dunia usaha turut berperan dalam pendanaan riset yang saat ini sekitar 80 persen masih tergantung pemerintah.

Dalam Rakornas tersebut hadir pula sejumlah perwakilan dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Anggota ALMI Dr Eniya Listiani Dewi yang bertindak selaku moderator dalam sesi diskusi menggarisbawahi penegasan presiden tersebut.

Menurut Eniya, hilirisasi riset menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan tersebut. Namun hilirisasi riset dan teknologi yang berujung di inovasi, kadangkala waktunya tidak cepat. Perlu ketekunan dan komitmen besar serta istiqomah dalam menghimpun kerja sama stakeholder.

“Kerja sama mudah diucapkan namun kendala pasti banyak. BUMN yg saat ini berkomitmen sbg “agent of development” menjadi mitra tepat untuk iptek,” ungkapnya.

Investasi yang dilakukan perlu komitmen pemimpin dunia usaha untuk memastikan berhasilnya suatu proyek. Pembuatan panser Anoa dan Drone Male, misalnya, memerlukan kerja sama kuat dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Begitu juga dengan perguruan tinggi.

Sementara, terkait bahan baku produk inovasi, seperti halnya pengembangan obat-obatan–yang industrinya high regulated dan high investment–perlu strategi khusus untuk masuk ke skala ekonomis serta multipropose plant, agar menjadi solusi. Merujuk pada penjelasan perwakilan Kimia Farma yang hadir dalam sesi diskusi, Eniya mengungkapkan, sesungguhnya telah banyak upaya kerja sama hilirisasi riset, misalnya melalui diagnostik demam berdarah kit serta garam farmasi.

“Kenapa pabrik bahan baku obat disamakan standard layout-nya dengan pabrik obat? Padahal, bahan baku obat itu prosesnya adalah industrial grade raw materials. Hal ini karena formulasi bahan baku memang memerlukan standard tinggi,” jelas dia.

Dia melanjutkan, obat herbal yang saat ini mulai banyak dikenal dan laku di pasaran, telah menjadi bagian dari strategi Dexa utk melahirkan banyak fitofarmaka, seperti antidiabetes. Dokter bisa meresepkan obat tersebut untuk pasien. Yang juga perlu ditekankan adalah swasta masuk dari awal pembuatan obatnya sehingga sesuai dengan apa yg dibutuhkan industri.

Terkait kontribusi swasta dalam pendanaan riset, Eniya berharap agar tax deduction yang dijanjikan pemerintah hingga 300 persen segera diselesaikan petunjuk teknisnya sehingga dapat segera diterapkan. Hal ini karena kebijakan tax deduction tersebut sangat dinanti oleh industri.

Namun, hal yang paling penting, industri sadar bahwa pada saat proses hilirisasi ke market, pengungkit riset dan pengembangan sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas, juga diversifikasi produk.

“Di sinilah terlihat jelas bahwa pelaku riset dan pebisnis sebetulnya sangat saling membutuhkan. Ibarat jodoh, tidak lari kemana,” imbuh ilmuwan perempuan muda penerima penghargaan Habibie Award 2010 termuda ini.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content