Ilmuwan harus Ikut Memecahkan Persoalan Bangsa

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
“Ilmuwan Indonesia bukan berorientasi Nobel, tapi Ilmuwan Indonesia secara hakikat adalah untuk memecahkan persoalan bangsa”.
 
Demikian pernyataan Mantan Presiden BJ Habibie ketika menginagurasi anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) di kediamannya tahun 2016 silam. Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Ketua ALMI Dr Alan F Koropitan di hadapan 228 calon doktor muda yang menjadi peserta Anjangsana Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Tahun 2019, di Jakarta (14-15/10).
 
Kalimat tersebut disampaikannya untuk mengingatkan kembali tentang betapa pentingnya peran ilmuwan saat ini bagi kemajuan bangsa. Dalam kesempatan itu, Alan juga berbagi tentang buku “SAINS45” yang telah disusun oleh ALMI dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), yang berisi 45 pertanyaan krusial ilmiah tentang persoalan bangsa yang perlu menjadi perhatian generasi muda sampai 2045 atau hingga 100 tahun Indonesia merdeka kelak.
 
Buku SAINS45 sendiri dapat diunduh file pdf-nya secara gratis di www.almi.or.id dan ditulis secara populer sehingga diharapkan dapat menjangkau pembaca usia remaja setingkat SMP dan SMA.
 
Para peserta anjangsana tersebut merupakan mahasiswa penerima beasiswa PMDSU Batch III yang berasal dari 11 perguruan tinggi pengampu program. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berkesempatan untuk menjalin jejaring sesama penerima PMDSU sekaligus mendapatkan materi dari berbagai tokoh nasional.
.
Program PMDSU sendiri merupakan skema beasiswa percepatan studi S-2 sekaligus S-3 selama empat tahun masa studi di perguruan tinggi terbaik dalam negeri.
.
Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti menyebut, PMDSU menjadi terobosan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kememristekdikti) untuk melahirkan dosen dan peneliti unggul masa depan. Pasalnya, para mahasiswa PMDSU ini diproyeksikan akan lulus Doktor pada usia di bawah 30 tahun.
.
“Kita membutuhkan dosen muda karena dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, dosen millennial ini akan lebih mudah untuk beradaptasi. Di sisi lain, banyak pula dosen yang mulai pensiun. Namun untuk regenerasi dosen, kita masih memiliki tantangan, terutama pada peningkatan kualifikasinya” sebut Dirjen Ghufron, Selasa (15/10).
Penulis:
Mohamad Burhanudin

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content