Indonesia Maju 2045: Pentingnya Peranan Ilmuwan Muda untuk Mempromosikan Kolaborasi Interdisiplin dan Inklusivitas dalam Riset dan Edukasi

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Jakarta, 4 Juni 2021 – Kekayaan biodiversitas alam dan manusia Indonesia dapat menjadi modal untuk menjadi negara maju pada tahun 2045, 100 tahun setelah kemerdekaan. Untuk mewujudkannya, ekonomi Indonesia harus berbasis pengetahuan, tidak lagi mengandalkan sumber daya alam semata. Oleh karena itu, riset dan pendidikan harus menjadi prioritas. Ilmu pengetahuan harus menjadi dasar pembangunan manusia Indonesia yang berperangai ilmiah.

Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) sebagai organisasi otonom bagi ilmuwan muda interdisiplin di Indonesia mengambil peran untuk memfasilitasi dialog antara ilmuwan dan pembuat kebijakan melalui penyelenggaraan rangkaian webinar dengan tema “Indonesia Maju 2045, Apa Kata Ilmuwan”. Acara yang diselenggarakan secara daring pada 29 Mei 2021 untuk memperingati HUT ALMI yang keenam sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional ini berhasil mempertemukan ilmuwan-ilmuwan ALMI dengan Menteri Sekretaris Negara, yang hadir mewakili Presiden Joko Widodo; PLH Kepala LIPI, yang hadir mewakili Kepala BRIN; dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Peranan ilmuwan muda untuk kebangkitan nasional telah ALMI, bersama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), lakukan sejak 2015 melalui publikasi buku “SAINS” (Satu Abad INspirasi Sains) 45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong 100 Tahun Kemerdekaan. SAINS45 berisi 45 pertanyaan mendasar yang dihadapi Indonesia dan dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan.

Dr. Sri Fatmawati, Ketua ALMI

“Hal ini karena interdisiplinaritas dan sinergi adalah sebuah keniscayaan demi mewujudkan Indonesia yang lestari”, kata Fatma

Ketua ALMI, Sri Fatmawati, mengatakan bahwa ALMI mendukung realisasi visi Indonesia Maju 2045 dengan memfasilitasi dialog serta sinergi antar bidang. “Hal ini karena interdisiplinaritas dan sinergi adalah sebuah keniscayaan demi mewujudkan Indonesia yang lestari”, kata Fatma, sapaan akrabnya. Selain itu, melalui penyelenggaraan peringatan HUT ALMI ini juga, ALMI secara konsisten berupaya memperkuat perangai ilmiah kepada masyarakat dan pemerintah, sesuai dengan salah satu misi ALMI.

Rangkaian webinar HUT ALMI ini menghadirkan 12 ilmuwan muda Komite Studi SAINS45, yang juga merupakan anggota perdana ALMI yang berasal dari lintas disiplin ilmu, sebagai narasumber. Dua belas ilmuwan tersebut adalah Najib Burhani, Hasnawati Saleh, Aiyen Tjoa, Pri Utami, Yudi Darma, Roby Muhammad, Alan Koropitan, Jamaluddin Jompa, Ronny Martien, Yanri Subronto, Sudirman Nasir, Teguh Dartanto. Diskusi dipandu oleh Sekretaris Jenderal ALMI, Hawis Madduppa dan Wakil Ketua ALMI bidang Sains dan Pendidikan, Inaya Rakhmani.

Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua AIPI

“Jika kita ingin keluar dari jebakan ini, kerangka berpikir, kapasitas dan kapabilitas manusia Indonesia perlu terus ditingkatkan terutama dengan penguasaan ilmu pengetahuan,“ kata Satryo.

Struktur populasi Indonesia yang saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif bisa menjadi kunci yang menentukan apakah Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dan menjadi negara maju. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengatakan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai kunci. “Jika kita ingin keluar dari jebakan ini, kerangka berpikir, kapasitas dan kapabilitas manusia Indonesia perlu terus ditingkatkan terutama dengan penguasaan ilmu pengetahuan,“ kata Satryo. Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, yang hadir mewakili Presiden Joko Widodo, mengatakan untuk tidak berpegang pada indikator pertumbuhan ekonomi semata, namun pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. “Kita harapkan kita bisa keluar dari middle income trap tetapi tentu saja melalui sustainable and inclusive growth, bukan hanya indikator pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan”, kata Pratikno.

Narasumber “Riset dan SAINS45”
Narasumber “Pendidikan dan SAINS45”

Ilmuwan ALMI menyoroti mulai dari keragaman budaya Indonesia yang dapat menjadi objek riset penting untuk kemajuan peradaban dunia dan Indonesia, biodiversitas alam Indonesia yang bermanfaat untuk pertanian, penemuan obat dan energi bersih terbarukan, hingga pentingnya mengarusutamakan pendekatan lintas disiplin dalam pendidikan bagi anak Indonesia. Derasnya arus informasi yang berpotensi menghasilkan hoaks dan berita bohong di masyarakat, realitas kesenjangan yang berdampak pada pendidikan, hingga perlunya kemitraan strategis dengan swasta untuk riset di Indonesia juga tak luput dari bahasan diskusi.

PLH Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, yang hadir mewakili Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Riset akan menjadi kurang optimal jika tidak didukung oleh ekosistem riset yang baik. PLH Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, yang hadir mewakili Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menanggapi tentang perlunya dukungan kemitraan strategis dengan swasta untuk riset di Indonesia. Sebab, anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia masih rendah dan didominasi oleh peran pemerintah. “Saat ini, anggaran R&D (litbang) Indonesia 0,25%. Kalau dibandingkan dengan negara lain, misalnya Malaysia dan Thailand, kita masih sangat rendah. Tetapi ternyata 0,25% ini 80%-nya dari pemerintah. Sementara dari swasta masih sangat sedikit. Perlu kolaborasi dengan swasta untuk hilirisasi riset,” kata Agus. Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa meningkatkan ekosistem inovasi harus memperhatikan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dari sisi kualitas ataupun kuantitas dan infrastruktur riset bersama yang bisa menjadi magnet bagi ilmuwan global. Agus optimis Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas, kebumian, kebudayaan, bisa menjadi pusat sains dunia di kemudian hari.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

“Untuk riset, harapan saya ALMI bisa bermain peran untuk membantu meng-guide keputusan-keputusan penting kita di bidang riset. ALMI bisa menjadi partner kami di riset. ALMI mitra utama dalam transformasi ini”, kata Nadiem.

Mendikbudristek, Nadiem Makarim, menyebut tiga prinsip utama untuk mendorong terciptanya ekosistem riset dan inovasi yang unggul. Ketiganya adalah institusi pendidikan tinggi merdeka untuk memutuskan prioritas fokus tridarma, dosen merdeka untuk memutuskan prioritas proporsi karier (mengajar dan melakukan riset), dan dosen/institusi merdeka untuk melakukan kolaborasi antara pendidikan tinggi dengan industri ataupun dengan lembaga riset di luar pendidikan tinggi. Pada kesempatan ini juga, Nadiem mengundang ALMI, sebagai ilmuwan muda yang berani mengambil risiko dan terbuka dalam menyampaikan data, untuk menjadi mitra Kemendikbud dalam bidang riset. “Untuk riset, harapan saya ALMI bisa bermain peran untuk membantu meng-guide keputusan-keputusan penting kita di bidang riset. ALMI bisa menjadi partner kami di riset. ALMI mitra utama dalam transformasi ini”. Kerja sama tersebut ditujukan untuk menghasilkan ilmuwan masa depan yang merdeka, produktif, dan menghasilkan dampak untuk negeri ini. Diskusi antara ilmuwan sebagai produsen pengetahuan dan pembuat kebijakan sebagai pengguna pengetahuan menghasilkan catatan kunci bahwa keunggulan dalam riset dan pendidikan bisa dicapai dengan kolaborasi interdisiplin dan lintas sektor, serta alokasi sumber daya di titik yang tepat. Di saat yang sama, sistem pendidikan juga perlu memberikan afirmasi dan perlindungan bagi mereka yang memiliki cita-cita yang sama untuk keunggulan tetapi terhambat secara struktural.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content