Membela yang Lemah, demi Bangsa dan Ilmu

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

 

Buku berjudul “Membela yang Lemah, demi Bangsa dan Ilmu: Keragaman, Minoritas, Khilafah, Kapitalisme Agama, dan Mazhab Yogya” pada tanggal 12 Februari 2020 ini diluncurkan di Ruang Sidang Lt 17, Kantor Kemenag, Jalan MH Thamrin 6, Jakarta. Buku yang ditulis oleh Prof Al Makin, Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, yang juga salah seorang anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), tersebut menegaskan pesan yang kuat bahwa kaum intelektual sepatutnya membela mereka yang lemah, tertindas, dan terbungkam.

Ilmuwan tidak sekadar memberi analisis, tetapi juga harus berdiri dan memihak untuk membela yang lemah, dalam posisi sosial, politik, ekonomi ataupun status kelompok tertentu. Sebagai peneliti dan penulis amatlah penting untuk mengambil peran dalam kehidupan nyata dan ini terlihat pada posisi bagaimana ia menyatakan diri dari hasil pergulatannya baik di lapangan atau lewat pustaka. Posisi lemah, atau dalam bahasa yang umum dipakai dalam kajian sosiologi dan antropologi adalah minoritas, mempunyai posisi signifikan dalam masyarakat mejemuk yang sehat; bahwa masyarakat yang beragam menghargai semua komponen tidak hanya yang kuat.

Yang lemah, berjumlah sedikit, kurang mempunyai daya tawar politis menjadi kenyataan yang perlu mendapat perhatian—bukan sebaliknya, seringkali diabaikan di masyakarat kita. Pemikir dan intelektual tidak hanya dan selalu memihak yang kuat, mayoritas, dan yang bersuara lantang. Yang diam, menderita dan tertindaslah yang harus disuarakan, dan diberi pinjaman pena untuk diwakili dan didukung.

Dalam kenyataan masyarakat modern demokrasi kapitalisme global kini, banyak kelompok terpinggirkan serta tidak mempunyai modal, baik berupa sosial, politik, ataupun ekonomi. Suara minoritas dalam kontestasi politik, pemilu dan pilkada Indonesia, juga tidak signifikan, maka keberadaan dan entitas mereka kurang diperhitungkan.

Politik saat ini menjadi penglima tertinggi dalam kehidupan masyarakat yang sedang mengalami proses demokratisasi; berapa jumlah suara menjadi sangat penting dalam setiap perhelatan politik. Suara mayoritas berperan dalam memilih pimpinan pusat dan daerah. Dalam perhitungan ini, minoritas daya tawarnya lemah. Maka, harus ada afirmasi, keberpihakan kepada mereka dimulai dari para ilmuwan, peneliti, dan penulis.

Para intelektual hendaknya tidak membiarkan yang lemah terpojok. Kita harus sensifit terhadap hak-hak mereka yang tidak terpenuhi, baik hak politik, sosial, atau ekonomi. Tentu ini mengingatkan perjuangan panjang keragaman dan kebhinekaan dimulai dari Sukarno sendiri dan para Bapak pendahulu bangsa, dilanjutkan generasi Abdurrachman Wachid (Gus Dur), Romo Mangunwijaya, Mukti Ali (Menteri Agama RI 1971-1978), Djohan Effendi, Romo Magnis Suseno, Ibu Gedong, Teha Sumartana, dan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Kondisi plural masyarakat tidak gratis turun dari langit, tetapi membutuhkan peluh dan keberanian untuk merancang dan mempertahankannya.

Gagasan dan penelitian dalam buku Membela Yang Lemah tentu meneruskan perjuangan, pemikiran para intelektual dan pemimpin Indonesia terdahulu. Apa yang telah dicapai hendaknya dikembangkan dan diteruskan. Ranah-ranah baru dalam berfikir kemajemukan masih harus terus dibuka selebar-lebarnya. Suara peneliti dan intelektual penting disini. Mungkin perlu memperkuat bangsa, berkompromi, dan berjejaring dalam komunikasi dengan mereka yang memerintah dan mempunyai otoritas. Tetapi intelektual harus juga menyuarakan mereka yang terpojok, bersama-sama menuntut keadilan atas hak-hak mereka supaya dipenuhi.

Buku ini juga membahas tentang konsep lain yang penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia, seperti keragaman, gerakan khilafah yang akhir-akhir ini menggusarkan bangsa yang berkelindan dengan kekuatan trans-nasionalisme era global, kapitalisme agama yang juga marak di media dan pasar, serta membaca gerakan Yogya (Mazhab Sapen dan Bulaksumur) yang khas, terutama Mukti Ali, Kuntowijoyo, Fajrul Falah, Mangunwijaya dan Amin Abdullah.

Generasi kini hendaknya membaca ulang secara kritis pemikiran-pemikiran mereka seperti para ulama dahulu yang memberi syarhpada matnpara kyainya.

Khas dari buku Membela Yang Lemahini tidak hanya memaparkan ide Penulisnya tetapi juga menghargai para pendahulu intelektual sebelumnya, seperti dalam membahas isu khilafah dikaitkan dengan tulisan Sukarno sebelum kemerdekaan. Kebanyakan para pembahasa dan peneliti langsung mengutip ayat suci kalau membahas khilafah. Tetapi buku Membela Yang Lemah ini dengan semangat rendah hati dan menghargai, membaca kembali tulisan Sukarno, sang pendiri bangsa. Memang sudah saatnya intelektual dan pemikir Indonesia tawadu menghormati para pendahlu untuk melihat dan memikirkan isu dan fenomena yang dihadapi dengan meminjam otoritas dan pemikiran orang lama kita sembari memberi kritik dan pandangan baru dengan tetap memikul tinggi buah pikiran yang sudah ada. Pemikiran tidak lahir dari ruang hampa, tetapi berdiri diatas pundak para raksasa.

 

 

Daftar Isi:

 

Sekapur Sirih

  1. Kebangkitan Para Nabi Pribumi: Perspektif Kenabian dan Gerakan Sosial Nusantara
  2. JejaringSutra:Jika Satu Benang Putus, Maka HancurlahSeluruhSistem
  3. Membangun Perspektif Ilmiah, Melampui Perspektif Teologis,dan Politik Identitas Populer:Kritik Terhadap Undang-Undang PNPS 1965 tentang Penodaan Agama
  4. Identitas Keacehan dalam Isu-Isu Syariatisasi,Kristenisasi, Aliran Sesat dan Hegemoni Barat
  5. Tanggalkan Khilafahdi Bumi Ini: Membaca Narasi Sukarno Tentang Sekularisme Turki
  6. Tuhan di Antara Desakan dan Kerumunan: Komodifikasi Spiritualitas Makkah di Era Kapitalisasi
  7. AntaraZiarah Religius dan Kapitalisasi Era Globalisasi di Madinah: Catatan Etnografis Umrah2016
  8. KritikTerhadap Pengetahuan: Menggali Mazhab Sapen Yogya
  9. Nada Polifonik Teks Marxist alaKuntowijoyo: Pencarian Jati Diri dari Marxisme ke Islam
  10. Amin Abdullah: Teladan Intelektual-Pemimpin yang Berkarakter
  11. Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Sekelumit Pengalaman dari Kenabian Nusantara, Keragaman, Administrasi, Sampai Globalisasi

 

Prof. Al Makin (Penulis) adalah Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, lulusan Ph.D Heidelberg University tahun 2008; sekarang ketua LP2M di kampusnya. Diantara karyanya Nabi-Nabi Nusantara(2017); Keragaman dan Perbedaan(2015); Challenging Islamic Orthodoxy(2016). Pengalaman internasionalnya diantaranya, Menjadi peneliti tamu (fellow) di North Florida University, Amerika; Bochum University Jerman; ARI (Asia Research Insitute) NUS Singapore; University of Western Sydney; dan Heidelberg University.

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content