Menuju Kesejahteraan Berbasis Biodiversitas

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

“Kini kita tiba di Pulau Sulawesi. Ini pulau yang menakjubkan dan sangat menarik, bahkan dibanding di seluruh planet, mengingat tidak ada pulau lain yang memiliki keganjilan sebanyak ini untuk dipecahkan.”

Begitulah penggalan kalimat Alfred Russel Wallace pada tahun 1850-an, yang dituangkannya dalam catatannya yang kelak diterbitkan dalam bukunya yang sangat terkenal Malay Archipelago atau Kepulauan Nusantara (1869).

Wallace, seorang naturalis, antropolog, dan ahli biologi berkebangsaan Inggris, adalah orang yang pertama kali menyadari dan mencatat betapa kaya dan beragamnya flora dan fauna nusantara.

Setelah perjalanan bertahun-tahun di Brasil yang membuatnya nyaris putus asa karena kehilangan hampir seluruh spesimen dan catatannya, Wallace sungguh tak menyangka, penjelajahannya setahun kemudian di Kepulauan Melayu (1852-1859), sebuah wilayah di timur jauh, menuntunnya ke babak baru hidupnya. Penjelajahan itu salah satunya mengantarnya menulis “Letters from Ternate” yang bercerita tentang survival of fittest sebagai dasar seleksi alam yang bersama Charles Robert Darwin membawanya menjadi penemu teori evolusi. Salah satu teori terbesar dalam sejarah sains, yang membentuk cara pandang baru manusia mengenai asal-usul organisme, serta menciptakan kontroversi luas hingga ranah sosial, budaya, politik, bahkan agama.

Tak hanya Wallace, pada abad yang sama, dokumentasi Georg Eberhard Rumphius di nusantara, berkontribusi besar bagi pengembangan sistem penamaan ilmiah pada abad ke-18 oleh Carolus Linnaeus, yang dikenal sebagai Linnaean taxonomy.

Wallace dan Rumphius jelas tak mengada-ada. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memang memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan pusat-pusat biodiversitas lain. Meskipun total luas daratan- nya hanya 1,3% dari total daratan di bumi, Indonesia adalah rumah bagi 17% spesies flora dan fauna di dunia.

Itu baru daratannya. Dalam buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia (versi PDF-nya dapat diunduh di bagian akhir artikel ini) yang diterbitkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan didukung oleh Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), USAID, dan Tempo Institute, serta diluncurkan pada 29 Agustus 2019 lalu, disebutkan, dengan luas lautan mencapai dua per tiga dari keseluruhan teritorial, maka gabungan biodiversitas daratan dan lautan, termasuk jasad reniknya, Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terkaya di planet bumi.

 

Wakil Ketua AIPI Prof Sofian Effendi saat memberi sambutan dalam acara peluncuran buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia, Kamis 29 Agustus 2019, di Jakarta.

Perairan serta pesisir Indonesia dan sekitarnya (Indo-Pacific Coral Triangle) telah diakui merupakan pusat biodiversitas dunia. Kawasan Coral Triangle atau segitiga karang memiliki 2.700 spesies ikan dan 600 spesies. Ragam dan kekayaan biodiversitas laut itu menjadikan perairan Indonesia dan sekitarnya, bersama-sama dengan Laut Karibia berbagi reputasi sebagai biodiversity hotspot.

 

“Spesies laut Indonesia sesugguhnya jauh lebih kaya daripada Karibia. Kita memiliki 600 spesies karang, sementara di Laut Karibia hanya 80,” ungkap Ahli Biologi Konservasi Universitas Indonesia, Prof Jatna Supriatna saat menjadi salah satu pembicara dalam acara talkshow peluncuran buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia (SBI). Jatna merupakan salah satu anggota tim penulis buku SBI.

Akan tetapi, lanjut Jatna, mengapa Karibia lebih terkenal dan menjadi pusat rekreasi karang laut dunia daripada perairan Indonesia? Hal tersebut, menurut dia, terkait kemasan, promosi, dan bagaimana memanfaatkan potensi kekayaan biodiversitas laut yang ada untuk kesejahteraan.

 

Talkshow “Sains untuk Biodiversitas Indonesia” yang diselenggarakan AIPI didukung oleh ALMI dan USAID, Kamis (29/8), menghadirkan pembicara Ahli Biologi Konservasi UI Prof Jatna SUpriatna, Ketua Tim Penulis Buku SIB Prof Jamaluddin Jompa, peneliti LIPI Dr Udi Eko Hermawan, dengan moderator salah seorang ilmuwan ALMI bidang Sains Garda Depan Dr Berry Juliandi.

 

Namun, sambung Jatna, lebih dari itu, hal yang lebih penting adalah bagaimana mendorong dan mereorganisasi ilmu pengetahuan tentang biodiversitas untuk kebijakan penggelolaan potensi kekayaan biodiversitas bagi kesejahteraan bangsa secara berkelanjutan.

Temuan-temuan ilmiah atas biodiversitas telah mengungkap manfaat besar keanekaragaman hayati Indonesia bagi kehidupan, baik kesehatan maupun ekonomi. Rumphius, misalnya, menemukan manfaat besar kacang hijau sebagai anti beri-beri. Direktur Sekolah Dokter Jawa (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Christiaan Eijkman, pada tahun 1929, menemukan anti beri-beri dari sumber lain, kulit ari beras, yang kemudian menamainya dengan vitamin B1. Kini, vitamin serta suplemen menjadi bisnis miliaran dolar.

Di Amerika Serikat, seperti dicatat oleh National Institutes of Health 2016, angka penjualan dua produk berbasis biodiversitas itu mencapai 37 miliar dolar setahun. Ironisnya, dengan kekayaan biodiversitas yang ada, kemampuan Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan yang ada melalui basis sains, masih sangat kecil, terlebih dibanding AS. Padahal, Indonesia dengan keragaman genetik manusia serta kearifan lokalnya terkait kekayaan alam semestinya merupakan laboratorium alam ideal untuk upaya penemuan obat, pangan, kosmetik, dan lain sebagainya.

Ketua tim penulis buku SBI, Prof Jamaluddin Jompa, mengatakan, berangkat dari kegelisahan untuk bagaimana menghadirkan rekomendasi kebijakan di bidang biodiversitas yang siap dikembangkan dan dijalankan sebagai kebijakan bagi kesejahteraan bangsa itulah buku SBI ini disusun dan diluncurkan.

 

Ketua Tim Penulis Buku SIB Prof Jamaluddin Jompa saat memberi sambutan dalam acara peluncuran buku “Sains untuk Biodiversitas Indonesia”, Kamis 29 Agustus 2019, di Jakarta.

 

Buku SBI, ungkap Jamaluddin, sesungguhnya dokumen yang berusaha menerjemahkan sejumlah inspirasi yang telah ditulis dalam buku SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan, yang sebelumnya telah diterbitkan AIPI.

 

“Buku SAINS45 menawarkan solusi jangka panjang, bukan solusi sementara. Merefleksikan cita-cita Indonesia yang kuat dan maju. Buku tersebut harus diterjemahkan. Maka, disimpulkan bahwa salah satu keunggulan Indonesia adalah biodiversitas. Oleh karena itu, pada tahun 2016, AIPI menugaskan ALMI untuk menyusun buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia,” papar Jamaluddin.

Penyusunan buku SBI melibatkan 12 ilmuwan lintas disiplin dari AIPI dan ALMI, serta 265 kontributor dari jejaring ilmuwan muda dari seluruh Indonesia. Buku setebal 228 halaman tersebut ditulis dengan bahasa populer yang relatif mudah dipahami. Sehingga, biodiversitas bukan hanya menjadi kajian para ilmuwan, tetapi juga adanya ketersediaan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan konsep publik dalam sebuah buku yang tidak terlalu panjang, mudah dipahami publik, sekaligus berguna untuk membuat sebuah rekomendasi yang bisa dijalankan.

 

Foto bersama pimpinan sekaligus anggota AIPI dan ALMI, Prof Emil Salim, Tim Penulis Buku SIB, Perwakilan USAID, Tempo Interaktif, dan tamu undangan lainnya dalam acara peluncuran buku SIB, Kamis 29 Agustus 2019

 

Buku ini tak ingin hanya menjelaskan bagaimana spesies dan gen biodiversitas, tetapi juga berkehendak untuk menerangkan bagaimana memanfaatkan biodiversitas yang ada sebagai tangible benefit untuk kesejahteraan bangsa,” kata Jamaluddin.

Lima Tantangan Besar

Buku SBI ini secara umum mampu menjelaskan dengan sangat baik dan renyah betapa kekayaan biodiversitas Indonesia tak hanya besar, melainkan juga merupakan aset yang sangat penting bagi kemajuan ekonomi, ketahanan pangan, dan daya saing bangsa. Namun, untuk menuju ke arah sana, Indonesia masih harus menempuh jalan panjang dan terjal. Buku ini setidaknya merangkum lima pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian sangat serius.

Pertama, meningkatkan pengetahuan mengenai kekayaan biodiversitas Indonesia secara memadai. Faktanya, data keanekaragaman hayati Indonesia, baik secara historis dan biogeografis masih sangat minim. Data yang ada pun masih terbatas, tersebar, belum terstandardisasi, belum terbuka, masih dikelola secara proyek, serta tingkat keberlanjutannya rendah. Padahal, ketersediaan data keanekaragaman hayati menjadi prasyarat mendasar dalam pengembangan pengetahuan dan pemanfaatan biodiversitas.

Kedua, mewujudkan potensi keutungan biodiversitas secara optimal. Pengetahuan tentang potensi dan nilai ekonominya beserta pengelolaannya secara berkelanjutan, akan mendongkrak potensi biodiversitas, seperti melalui penemuan obat, ekowisata, dan energi terbarukan. Upaya-upaya tersebut sesungguhnya sudah mulai ditempuh di sejumlah wilayah. Sayangnya, upaya yang ada belum optimal.

Ketiga, melakukan mitigasi kerusakan berbagai ekosistem penting dan ancaman kepunahan berbagai spesies. Kerusakan habitat dan kepunahan berbagai jenis biota hingga kini terus terjadi di Indonesia. Pada tahun 2012, hasil studi para ahli menunjukkan, sekitar 840.000 hektar hutan menghilang tiap tahunnya. Kebijakan pemerintah masih belum mampu melindungi biodiversitas dari kerusakan.

Keempat, menguatkan sains dan teknologi terkait konservasi dan pemanfaatan biodiversitas untuk daya saing bangsa. Artinya, kompetensi dan infrastruktur yang meliputi sains dasar dan terapan, termasuk pengelolaan big data, perlu diperkuat.

Kelima, perlunya pengarusutamaan sains biodiversitas dalam perumusan kebijakan terkait. Dengan kata lain, biodiversitas dan lingkungan harus menjadi arus utama kebijakan pembangunan.

Dua Rekomendasi

Setidaknya ada dua rekomendasi besar yang ditawarkan buku SBI untuk untuk menjawab enam tantangan di atas. Pertama, prioritas investasi nasional dalam pemanfaatan dan pengelolaan biodiversitas. Dalam bidang lingkungan hidup dan biodiversitas, di manakah pemerintah sebaiknya berinvestasi? Itulah pertanyaan penting yang harus dijawab. Dari hasil kajian para ilmuwan yang terlibat dalam penulisan buku ini, terdapat tiga kegiatan utama yang dapat dijadikan prioritas investasi nasional berbasis biodiversitas, yaitu pengembangan ekowisata berbasis sains, bioprospeksi untuk penemuan obat dan energi, dan eksplorasi laut dalam.

Kedua, mengembangkan sains dan teknologi untuk biodiversitas Indonesia. Bagaimanapun, Indonesia tetap harus berinvestasi dalam sains dasar dan teknologi untuk dapat mengelola kekayaan biodiversitasnya secara lestari dan mendapatka manfaat ekonomi sebesar-besarnya. Hal ini dapat ditempuh melalui lima jalan.

Pertama, mengembangkan sains dan teknologi untuk memahami sifat-sifat dasar megabiodiversitas. Upaya ini membutuhkan beberapa langkah, antara lain: penelitian yang lebih komprehensif melalui pengembangan observasi dan permodelan tepat: meningkatkan pemahaman tentang keseimbangan ekosistem demi keberlangsungan perlindungan spesies endemik dan atau terancam punah; memahami pola adaptasi biodiversitas terhadap perkembangan global dan perubahan iklim; dan memperkuat bank spesimen biodiversitas Indonesia.

Kedua, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya mengelola biodiversitas yang produktif dan berkelanjutan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya biodiversitas, serta mengembangkan kearifan lokal, sains warga dan data komputasi.

Ketiga, meningkatkan pemanfaatan dan nilai ekonomi keunggulan biodiversitas Indonesia. Upaya ini memerlukan serangkaian langkah, antara lain: melalui pemanfaatan dan pengusahaan jasa ekosistem; serta mengembangkan sains biomimikri, yaitu pendekatan yang menggunakan sistem model untuk memecahkan masalah yang dihadapi manusia, terutama dalam desain produk. Atap Teater Esplanade di Singapura yang meniru kulit buah durian adalah contoh aplikasi biomimikri dalam bidang arsitektur. Atap tersebut tidak semata sebagai hiasan untuk menarik wisatawan, tetapi juga berfungsi sebagai panel alumunium yang mengikuti posisi matahari.

Peningkatan nilai ekonomi keunggulan biodiversitas juga dapat ditempuh dengan memanfaatkan sumber daya laut dalam secara berkelanjutan, seperti melalui pengembangan produk-produk berbasis bioteknologi laut dalam, khususnya nutrisi dan obat-obatan. Laut juga dapat dimanfaatkan mendukung kedaulatan pangan, khususnya guna menggantikan padi. Upaya ini membutuhkan kontribusi sains sebagai antisipasi menghadapi perubahan iklim dan peningkatan jumlah penduduk.

Keempat, mengembangkan dan meningkatkan efektivitas konservasi dan tata kelola biodiversitas, seperti restorasi dan konservasi ekosistem kunci (hutan, bakau, padang lamun, dan terumbu karang). Di samping itu, interaksi dan dampak spesies asing terhadap spesies lokal juga merupakan permasalahan yang harus diselesaikan dan diantisipasi.

Kelima, pengembangan sumber daya manusia. Segala upaya memanfaatkan biodiversitas secara lestari memerlukan kekuatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan mumpuni di bidang tersebut, khususnya di bidang-bidang strategis, seperti taksonomi, bioinformatika, big data, dan keahlian teknologi. Celakanya, justru pada bidang-bidang tersebut, Indonesia sangat lemah.

Keenam, kelembagaan dan pendanaan. Sains biodiversitas untuk penelitian dasar, terapan serta untuk upaya konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati membutuhkan pendanaan dalam jumlah memadai dan berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pendanaan kompetitif, otonom, berkelanjutan, adanya kolaborasi internasional, serta keberadaan universitas riset.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof Emil Salim, dalam pidato sambutannya di acara peluncuran buku SIB, pekan lalu, mengatakan, pengarusutamaan pengembangan ilmu pengetahun atau sains untuk pengembangan biodiversitas bagi pembangunan ekonomi, dapat menjadi langkah strategis bagi Indonesia saat ini dan ke depan.

 

Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof Emil Salim saat memberi sambutan dalam acara peluncuran buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia, Kamis 29 Agustus 2019, di Jakarta.

Hal tersebut, ungkap Emil, terutama terkait dengan permasalahan-permasalahan besar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, yaitu: bonus demografi yang akan terjadi mulai 2020 di mana jumlah penduduk usia produktif (15-34) tahun akan mencapai angkat 69 persen dari keseluruhan populasi; kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tak ramah lingkungan; kian habisnya sumber daya alam tak dapat diperbarui yang selama ini menjadi sumber ekonomi utama; serta rendahnya kualitas sumber daya manusia, terutama di bidang sains.

“Dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia, sains, dan biodiversitas, kita akan dapat membangun kesejahteraan bangsa, punya daya saing, sekaligus menjadi lebih manusiawi,” tandas Emil.

 

AIPI-SBI-WEB-FINAL

AIPI SBI WEB FINAL

 

Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Skip to content