ID | EN

Tim Peneliti Universitas Ma Chung Temukan Bakteri Unik Untuk Antibiotik Baru

Bagikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Jakarta, 27 Februari 2020—Tim peneliti dari Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Universitas Ma Chung, Malang, kembali menorehkan prestasi dalam riset. Setelah beberapa waktu lalu berhasil menemukan metode baru untuk mengidentifikasi kesehatan tanaman, Kamis (27/02/2020) ini, mereka merilis hasil penelitian baru berupa temuan bakteri laut Pseudoalteromonas rubra.

Direktur PUI-PT Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments (MRCPP), Universitas Ma Chung, Dr Tatas HP Brotosudarmo, mengungkapkan, bakteri laut tersebut dapat menghasilkan pigmen antimikroba, yang sangat bermanfaat untuk dikembangkan sebagai obat-obatan antibiotik baru.

“Agen antimikroba adalah obat yang umumnya diperoleh dari mikroorganisme yang sangat penting untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri. Saat ini, obat baru sangat diperlukan karena penurunan kemanjuran obat dan kebutuhan untuk memerangi resistensi antibiotik. Jadi, temuan ini akan sangat bermanfaat, terutama bagi kemajuan dunia kesehatan di Indonesia,” ujar Tatas yang juga merupakan Wakil Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).

Resistensi antimikroba (AMR) ataupun antibiotik, saat ini merupakan masalah global yang serius. WHO pada tahun 2010 melaporkan, infeksi nosokomial yang disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antimikroba mengakibatkan 38.481 kematian di Thailand. Artinya, penemuan obat baru menjadi kebutuhan yang penting saat ini guna mengurangi resistensi tersebut.

Tatas melanjutkan, mikroorganisme laut mewakili sumber signifikan obat baru untuk pengembangan karena keanekaragaman hayati yang kaya dan kapasitas genetik untuk menghasilkan metabolit yang unik. Sebagai negara kepulauan, biodiversitas Indonesia adalah terbesar di dunia dan merupakan sumber berjuta senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan obat dan potensi sumber daya ekonomi biru.

“Kemampuan untuk menguasai sains dan iptek adalah kunci utama dalam eksplorasi dari keanekaragaman hayati menjadi sumber daya genetik dan biokimia yang mempunyai nilai secara komersial,” imbuh Tatas.

Ditemukan di Alor

Bakteri laut Pseudoalteromonas rubra ditemukan oleh Edi Setiyono, salah satu peneliti di Laboratorium Brotosudarmo, PUI-PT MRCPP, di air laut yang diambil dari Pantai Sebanjar dan Pulau Sika, Kabupaten Alor, Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Edi, pada tahun 2018, dia baru berhasil mengisolasi bakteri yang memiliki pigmen merah tersebut. “Bakteri tersebut ternyata memiliki kesamaan genetika sebesar 99% dengan Pseudoalteromonas rubra ATCC 29570 berdasarkan uji 16S rRNA,” kata Edi.

Bersama dengan anggota tim peneliti yang lain, di antaranya Monika Prihastyanti, Marcelinus Adhiwibawa, dan Renny Indrawati, akhirnya didapatkan keunikan bakteri dari Pulau Alor itu. Keunikannya adalah ternyata bakteri tersebut mengandung enam jenis pigmen antimikroba, yaitu cycloprodigiosin, prodigiosin, 2-metyl-3-hexyl-prodiginine, 2-methyl-3-propyl prodiginine, 2-methyl-3-butyl-prodiginine, dan 2-methyl-3-heptyl-prodiginine.

Pigmen-pigmen tersebut kemudian diuji aktivitasnya sebagai agen antimikrobia pada beberapa bakteri pathogen, seperti Escherichia coli, Straphylococcus aureus, Salmonella typhi, serta Candida albicans, dan ternyata dapat berperan sebagai antimikroba terhadap beragam bakteri tersebut.

Hasil riset ini, lanjut Edi, sebenarnya telah dipublikasikan di jurnal internasional bergengsi terbitan American Chemical Society pada Rabu tanggal 26 Februari 2020. Namun baru dirilis kepada publik di Indonesia pada Kamis, hari ini.

Sebelumnya, pada tahun 1976, bakteri Pseudoalteromonas rubra ATCC 29570 untuk pertama kalinya diisolasi dari air laut Mediterania dengan pigmen prodigiosin, yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap Staphylococcus epidermis. Kemudian, pada tahun 1979, Gerber dan Gauthier menemukan pigmen jenis baru yang bernama cycloprodigiosin pada bakteri yang sama.

Contact Person:

Tatas HP Brotosudarmo (+62 821-4149-0052)

————

Laboratorium Brotosudarmo di PUI-PT MRCPP, Universitas Ma Chung, saat ini dipimpin oleh Dr. Tatas H.P. Brotosudarmo. Sejak 2011, laboratorium ini telah dikenal internasional dengan riset pigmen dari sumber daya alam Indonesia. Laboratorium bekerja dengan teknik separasi kromatografi, serta determinasi struktur dan fungsi pigmen dengan spektrometri massa. Selain itu, laboratorium ini juga mengembangkan bioteknologi dan biologi molekuler untuk mempelajari lebih dalam biosintesis pigmen. Berbagai penghargaan bergengsi telah diperoleh Dr. Brotosudarmo, antara lain: Science & Technology Award 2015 dari Indonesia Toray Science Foundation, Alumni Award 2017 dari British Council, Fellow Kavli Frontier of Science, Fellow 63rd Meeting of Nobel Laureate in Lindau, Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, dan Georg Foster Fellow dari Alexander von Humboldt Foundation, Jerman.

Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) merupakan organisasi bagi ilmuwan muda Indonesia yang bernaung di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). ALMI berdiri secara resmi setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden RI No.9/2016 tentang Revisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AIPI, pada tanggal 29 Februari 2016.

Artikel Lainnya

One thought on “Tim Peneliti Universitas Ma Chung Temukan Bakteri Unik Untuk Antibiotik Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to content